Berharap Lebih dari TKIMAI



Jakarta menyapa kami siang itu. Suasana stasiun yang hiruk pikuk oleh penumpang menjadi pemandangan biasa. Kami melangkahkan kaki menuju tempat penjemputan. Setengah jam kemudian bus kota datang bersamaan dengan truk TNI yang siap mengangkut ke tempat yang belum pernah kami kunjungi.

Ada beberapa pikiran yang mungkin terlintas di benak sebagian peserta TKIMAI. Harapan memperoleh teman baru, bersilaturahmi dengan teman lama bagi yang pernah ikut TKIMAI sebelumnya, sampai berharap bertukar cindera mata dari BPR lain.

BPR adalah kumpulan dari beberapa mahasiswa arsitektur dalam satu wilayah. Semisal kami BPR 5 yang berasal dari kampus se Jawa Timur, bersilaturahmi satu sama lain dengan dasar kekeluargaan.

TKIMAI menjadi ajang berkumpulnya BPR se-Indonesia. Tercatat sudah ada 19 BPR yang telah ada ditambah lagi yang ke 20 yaitu BPR Kalimantan yang baru dibentuk. TKIMAI menawarkan hal yang lebih. Tidak semua MAI (Mahasiswa Arsitektur Indonesia) mendapat kesempatan untuk mengikuti acara ini. BPR di masing-masing daerah akan mewakilkan perwakilannya untuk datang.

Bagaimana dengan MAI yang belum dapat mengikuti acara ini? Apakah mereka merasakan dampak TKIMAI? Peserta TKIMAI masih membawa dirinya sendiri. Kebutuhan memperoleh pengalaman adalah untuk dirinya kelak, yang didapat adalah untuk dinikmati sendiri. Salahkan mereka yang tidak ikut. Masalah selesai.

Padahal mereka masih mempunyai keluarga. Anggota BPR yang belum bisa mengikuti hanya bisa pasrah. Anggota Himpunan Mahasiswa maupun non anggota di tiap-tiap kampus hanya dapat melihat postingan di sosial media. Keren ya mereka yang bisa ikut.



Peserta TKIMAI adalah pemancing di kolam besar forum ini. Keluarga yang mereka wakili tentunya menunggu. Ikan dalam keranjang dapat dibawa ke rumah masing-masing kemudian disajikan dengan baik. Ikan jangan hanya ‘dipamerkan’ mereka juga ingin memakannya. Pameran hanya akan membuat mereka ngiler dibuatnya.

Sampai disini, patut dibilang TKIMAI tidak penting dan jangan berharap lebih darinya. Apalagi ada niat untuk menunjukkan keilmuan yang lebih tinggi dari yang lain. Karena memang TKIMAI bukan ajang kompetisi siapa yang lebih baik. TKIMAI adalah ajang kedewasaan dalam menyikapi perbedaan sikap diantara keluarga.

Benar kata Pak Eko Prawoto kemarin, tantangan seorang arsitek dalam sebuah tim bukan tentang desain yang dihasilkan, tetapi keluasan dan kerendahan hari dalam proses menemukan desain tersebut. Dalam tim tentunya banyak ide yang muncul dan untuk tidak memaksakan ide sendiri sangat susah. Dua kata dari Pak Eko adalah kuncinya.

Perlu untuk menghadirkan kebikjasanaan agar dapat menyajikan ikan yang telah diperoleh. Memilah duri dalam daging dan memberi suapan yang besar sampai kenyang. Kenyang bersama-sama dengan kerelaan beberapa anggota keluarga yang pergi ke kolam pemancingan. Sedangkan keluarga di rumah menunggu ikan yang datang.

Sebuah pengorbanan. Sangat berat untuk berbagi ikan yang diperoleh. Kenapa harus capek-capek berbagi dengan keluarga di rumah? Mereka tidak berbuat apa-apa dan hanya menunggu saja. Memakan ikan tangkapan sendiri lebih enak bukan?

Rawatlah benih dalam kolam besar TKIMAI

Jakarta, 29 Juli 2017
Universitas Borobudur


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Le Corbusier dan Bagaimana ia Menjadi Legenda Arsitektur

Mengapa Bumi Dapat Disebut Perempuan?