Le Corbusier dan Bagaimana ia Menjadi Legenda Arsitektur
![]() |
| architetturasacra.org |
Salah
satu hal yang terpenting dalam sebuah karya adalah proses belajar. Banyak karya
besar dunia yang didapat dari proses kegagalan berkali-kali. Thomas Alva Edison
menyempurnakan lampu pijarnya setelah ratusan bahkan ribuan kali gagal.
Dalam
dunia arsitektur, Le Corbusier menunjukkan proses belajar untuk menjadi seorang
arsitek yang bukan hanya berhasil menciptakan karya yang dapat dibangun, tetapi
juga dikenang, dipelajari dan terus menjadi sumber inspirasi.
Corbusier
mempunyai guru. Banyak orang bilang jenius adalah orang yang ahli secara
otodidak. Tetapi proses pencarian seperti ini biasanya memerlukan waktu yang
lama. Proses belajar kepada guru yang telah mengalami proses tersebut akan
memangkas waktu, sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Pencarian
Corbusier tidak hanya berhenti pada satu sosok guru. Setelah mendapat ilmu dari
Rene Chapallaz di Paris, Corbusier berguru pada Auguste Perret seorang ahli
beton. Proses kelananya berlanjut ke Berlin, bertemu dengan Peter Behrens,
Ludwig Mies Van der Rohe dan Walter Gropius. Corbusier juga melakukan
perjalanan Yunani-Turki untuk melukiskan arsitektur di tempat yang telah
dilewati.
Julukan
‘Right Man in the Right Place’ sangat
cocok menggambarkan Le Corbusier. Hidup ketika perang dunia berlangsung hingga
perang reda membuat pemerintah maupun swasta tidak berpikir panjang
mengeluarkan uang untuk mewujudkan desainnya. Pandangannya tentang modernisme
‘Ornamen is a crime’ atau ‘Less is More’ membantu memulihkan keadaan kota
selepas perang. Bangunan yang seragam dan tanpa ornamen mempercepat proses
pembangunan wajah kota.
Tahun
1914-1915 Le Corbusier mengeluarkan buku ‘Domino House’ yang menerangkan konsep
open floor plan yaitu meniadakan bearing wall yang waktu itu banyak digunakan.
Konsep ini yang menjadi cikal bakal kontruksi bangunan yang jamak digunakan
masa kini. Peniadaan bearing wall diganti dengan kolom dan balok sehingga dapat
mengeksplorasi fasad dan interior.
Le
Corbusier menerapkan ilmu beton dari Auguste Perret pada rancangan Villa La Roche. Pada waktu itu belum ada
pengaplikasian dag pada atap. Lagi-lagi Le Corbusier adalah perintis dalam
penggunaan material baru. Dag atap ini tidak langsung berhasil, masih ditemukan
kebocoran hingga sempat dituntut di pengadilan oleh pemiliknya.
Bagaimana
proses Corbusier menemukan ide original dan mengembangkannya? Corbusier menulis
dan menggambarkan inspirasi yang didapat dari perjalanan keliling eropa pada
sebuah karya Vers Une Architecture(1911).
Selain itu terdapat Le Modulor (1951) yang
menerangkan tentang rasio bentuk yang didapat dari anatomi tubuh manusia. Le Modulor banyak dihubungkan dengan
golden ratio maupun angka fibonaci yang semuanya bertemu pada angka 1,6.
Corbusier
melewati tiga tahapan untuk menjadi legenda arsitektur. Introduction, Preparation, dan Full time dedicate. Introduction adalah
proses menemukan guru dan kelana keliling eropa. Corbusier sedang berusaha
memangkas proses menemukan sendiri arsitektur dengan belajar kepada yang sudah
ada, baik berupa yang hidup (guru) maupun mati (bangunan). Preparation adalah proses belajar dari kesalahan dan membutuhkan
waktu yang tidak sedikit. Proses belajar ini yang mengecilkan jarak antara ide
dan realisasi. Kesalahan atap dag pada Villa
La Roche diperbaiki pada rancangan Villa
Savoye. Ketika proses penyempurnaan desain tidak bisa dilakukan pada satu
bangunan, maka Corbusier mencoba kembali menerapkannya pada bangunan lain.
Terakhir adalah Full time dedicate, yaitu
menjadi arsitek profesional. Puncak karya Le Corbusier adalah chapelle notre dame du haut (1950-1955),
merupakan karya yang sangat berbeda dengan karya sebelumnya. Sangat aneh
melihat gereja ini dari luar, apalagi melihat kotak tidak beraturan pada
fasadnya. Pembagian ruang juga tidak memperhatikan grid, sedangkan lantai tidak
rata permukaannya. Ternyata bentuk luar bangunan berpengaruh pada interior yang
luar biasa. Bayangan dan cahaya yang masuk membentuk ‘cinematic architecture’. Tahu penampakan aurora? Begitulah sedikit
gambaran versi cahaya berwarnanya. Lantai tidak rata nyatanya menyesuaikan
dengan kontur tanah. Sebuah mahakarya arsitektur.
![]() |
| Permainan cahaya seperti aurora sumber : flickr |
Ide-ide yang menjadi ciri khas Le Corbusier terletak pada hubungan interior dan eksterior bangunan. Eksterior bangunan tidak hanya berdiri sendiri yang hanya mencerminkan tampak luarnya saja, tetapi berpengaruh pada interiornya dan sebaliknya. Contoh paling nyata adalah chapelle notre dame du haut (1950-1955). Kedua adalah permainan feel/sensasi. Setiap bangunan atau ruang yang dihasilkan selalu mempunyai rasa yang berbeda. Ketika memasuki Villa La Roche, langsung disambut oleh sinar yang dihasilkan oleh kotak penyaring cahaya yang berada di atap. Bentuk tangga melengkung memberi sensasi berbeda ketika berada di atasnya. Chapelle notre dame du haut memberi sensasi ketika berada di ruang gelap yang mendapat sinar cahaya yang hanya dapat dinikmati pukul 9 sampai 10 pagi. Ketiga adalah pengejawantahan lukis. Corbusier menerapkan warna palet pada maison du brésil(1959). Terakhir adalah permainan komposisi yang telah dituliskan pada buku Le Modulor (1951) mengenai rasio berdasarkan tubuh manusia.
![]() |
| Fasad chapelle notre dame du haut (1950-1955) sumber : www.fondationlecorbusier.fr |
![]() |
| Interior chapelle notre dame du haut (1950-1955) sumber : www.fondationlecorbusier.fr |
![]() |
| Warna palet pada Maison du Brasil sumber : maisondubrasil.com |
Melihat kebesaran Le Corbusier, seorang legenda selalu menulis, berkelana, berguru, tidak berhenti belajar untuk menghasilkan karya yang orisinil dan menginspirasi banyak orang sepanjang zaman. Tulisan ini sebagian besar bersumber dari diskursus Spirit 45 oleh Andy Rahman, Eka Osa, dan Realrich Sjarief yang bertempat di Andy Rahman Studio, Sabtu, 28 April 2018. Terima Kasih





Komentar
Posting Komentar