Kopi Bagi Kami Mahasiswa Arsitektur
Kopi itu pahit. Tapi kenapa banyak orang menyukainya? Bagi mbah saya kopi itu layaknya air putih. Tiap pagi sore maupun malam paling tidak segelas kopi beliau teguk. Bahkan sehabis makan tidak langsung minum air putih malah ngopi. Biar gak pusing katanya. Saya kalau pergi ke rumah simbah (masih sedesa) pasti langsung ditawari kopi dan jawabannya pasti mantuk- mantuk (angguk-angguk).
Mungkin karena
sedari kecil sudah terbiasa ngopi sampai sekarangpun masih sering ngopi. Kopi
dan ngopi bukan hanya soal membuat mata melek, sebagai teman pencari inspirasi
kopilah juaranya. Setiap sruputan kopi seakan akan memancing otak untuk makin
aktif berfikir. Dalam berdiskusi misalnya, munum kopi acap kali mengundang ide
ide maupun renungan. Merenungkan ide adalah kegiatan mahasiswa arsitektur
apalagi ditemani secangkir kopi. Sudah berapa banyak omset kopi yang disumbang
oleh mahasiswa arsitektur? Mereka berada di urutan atas daftar penyumbang
pendapatan pabrik pengolah kopi. Bagi kami kopi memuluskan pencarian desain.
Seandainya kopi dapat bicara, dia seakan akan menjadi asdos kedua setelah asdos
utama yang jarang bisa ditemui. Pengusaha kopi sepertinya perlu menjadikan mahasiswa
arsitektur sebagai brand ambassador untuk produknya mengingat pentingnya kopi
bagi terselesaikan tugas kami.
Saya dan kawan
kawan sering berkumpul di warung kopi buat rapat maupun ngobrol santai. Ketika berusaha
mencari solusi, menyeruput kopi adalah pilihan yang tepat. Dan seakan akan ide
datang ketika tegukan sudah sampai di tenggorokan. Ternyata mencari kenikmatan
itu sangat mudah. Kopi dan ide adalah teman. Saya pernah baca buku Madilognya
Tan Malaka. Beliau menulis ada hubungan saling memberi antara masyarakat dan
fikiran. Masyarakat memberi andil terciptanya fikiran fikiran baru. Sebaliknya
fikiran fikiran baru tersebut juga bisa mengubah masyarakat tersebut.
Masyarakat dalam hal ini adalah kopi. Kopi dapat menstimulus datangnya ide ide
maupun fikiran yang sebelumnya masih jauh terpendam. Saat ide datang rasa kopi
berubah seakan akan semakin nikmat disetiap tegukannya. Nikmat rasa kopi yang
berlipat lipat ketika kamu mengiringi dengan berfikir. Cobalah
"Seduhlah aku, kutemani kau memahami alam semesta"
Pernah juga
mengalami pengalaman buruk dengan kopi. Waktu itu masih awal awal menjadi
mahasiswa arsitektur. Pak dosen memberi tugas membuat garis lurus. Ternyata
susah juga apalagi kerjakannya tidak bisa sejam dua jam. Saya mengerjakannya
sampai larut malam. Kopipun jadi teman. Besoknya tugas dikumpulkan. Tarikan
garis saya mendapat komen dari pak dosen. Kamu tadi malam ngopi ya? Saya
terheran kok dosen bisa tahu. Ternyata pak dosen melihat tarikan garis saya
yang agak bergelombang. Halus sih gelombangnya tapi sehalus itu masih dapat
terlihat oleh dosen saya. Kata beliau kopi membuat jantung berdegup kencang sehingga
gerakan tangan menjadi tidak rileks. Sejak saat itu saya tidak minum kopi
ketika ada tugas menarik garis. Tapi diluar itu ngopi adalah wajib hukumnya.
Tidak apa apalah demi nilai A dari dosen hehe
Terima kasih
saya ucapkan kepada penemu, petani, dan penjual kopi telah membantu terciptanya
desain kami. Anda ikut berperan terciptanya bangunan unik dan futuristik di
kota besar dunia. Tetap lestari warung warung penjual kopi jasa kalian tidak
akan kami lupakan. Salam Mahasiswa Arsitektur Indonesia.
Komentar
Posting Komentar